Seperti selalunya rembulan,
memanah cahaya lazuardi,
yang memukau mata dan
mengisi jiwa-jiwa sepi,
yang dahulu hingga kini
mengejar mentari,
seperti engkau yang mengejar
cinta Ilahi.
Dalam remang subuh
teratai menari lentuk,
dengan kepayahan dan
mehnah duniawi,
masih saja ia mekar di pagi hari,
memberi sinar pada mata yang memandangi,
seperti engkau yang tenggelam timbul
menjerti Ar-Rahim
dalam lautan tribulasi dan wahn hati.
Dan esoknya,
pasti engkau bangkit menjadi perisai
ukhrawi,
sehingga ku lihat engkau hari ini
subur dengan nama-nama Ilahi,
seperti teratai yang mekar di dingin subuh.
Pada setiap yang tersimpul oleh
bebenang takdir,
tersimpul dengan rahmat dan hikmah
Ilahi,
dititip selautan haru dan air mata nurani,
buat akhi yang sudi berkongsi diri.
Nisa Samsudin, anak buah PMGPP '18.
memanah cahaya lazuardi,
yang memukau mata dan
mengisi jiwa-jiwa sepi,
yang dahulu hingga kini
mengejar mentari,
seperti engkau yang mengejar
cinta Ilahi.
Dalam remang subuh
teratai menari lentuk,
dengan kepayahan dan
mehnah duniawi,
masih saja ia mekar di pagi hari,
memberi sinar pada mata yang memandangi,
seperti engkau yang tenggelam timbul
menjerti Ar-Rahim
dalam lautan tribulasi dan wahn hati.
Dan esoknya,
pasti engkau bangkit menjadi perisai
ukhrawi,
sehingga ku lihat engkau hari ini
subur dengan nama-nama Ilahi,
seperti teratai yang mekar di dingin subuh.
Pada setiap yang tersimpul oleh
bebenang takdir,
tersimpul dengan rahmat dan hikmah
Ilahi,
dititip selautan haru dan air mata nurani,
buat akhi yang sudi berkongsi diri.
Nisa Samsudin, anak buah PMGPP '18.
Ulasan
Catat Ulasan